Aku menulis ini ketika hujan baru
berhenti, menenggelamkan malam bandung dengan dingin yang tak hilang dengan
menggosokan tangan sendiri. Kawan timur, apa kabar kau di medan sana? Sehat –
sehat kau? Hasratku untuk berbagi kesusahan sudah tak tertahankan lagi, iya
kesusahan, selalu itu saja yang bisa aku bagi sekarang. Belum ku jumpai lagi
kesenangan yang mampu mengembangkan dada karena mekarnya bunga hati.
Kau benar, tidak akan ada kesenangan tanpa kejujuran.Tidak salah ketika kau bilang, kebohongan hanya
benteng angkuh yang menutup-nutupi kerapuhan yang ada di dalamnya. Kepalaku
berat, entah apa isinya, aku sendiri tak tau apa sebenarnya yang aku tahan. Entah
hitungan bulan atau tahun dia menguasai kepala dan hatiku, membutakan semua
sudut pandangku, membisukan semua perkataan yang dulu terasa bebas keluar tanpa
hambatan, tanpa batasan, tanpa ukuran tapi tetap dengan pertimbangan.
Tanganku bergetar
dan tidak bisa berhenti ketika menulis surat ini, meraba-raba lagi deretan
alfabet dalam keyboard selayaknya
veteran tua mengelus-elus senapan tua miliknya. Dadaku sesak, terasa semua
isinya saling berebut ingin keluar terlebih dahulu, berlomba membebaskan diri.
Dan aku sebagai penjaga bentengnya masih saja gemetar memegang kunci kebebasan
mereka. Ku tahan mereka dengan tujuan yang aku sendiri tak pernah mengerti, tak
pernah tahu apa sebenarnya sebab mereka tak pernah aku lepaskan. Aku buta
dengan apa yang ada di dalam diriku sendiri. Ketidak tahuanku akan apa yang ada
padaku membuatku merasa kesepian lagi.
Menyebut – nyebut
kesepian, tanganku berhenti mengetik. Aku sudahi saja sampai disini dulu.
Tabik.
Memang beda yah hasilnya ketika INGIN dan HARUS menulis itu. Ada perkembangan yang signifikan dalam tulisan (surat)mu kali ini. Pemilihan diksi dan tempo serta alur cerita yang lebih apik.
BalasHapusEntahlah ... rasanya (setelah beberapa kali baca karyamu) tulisan bertemakan kesepian, kematian, suram, dan kawan-kawannya selalu terlihat lebih bagus hasilnya daripada tulisanmu yang bertemakan sedikit ceria.
Tapi yang pasti, jangan berhenti menulis. Menulisnya untuk dirimu sendiri sebagai persembahan untuk peradaban, yang kerap kali kau ucapkan. :D
Sumbangan untuk peradaban, ahaahaahaaaaa...
BalasHapus