• Selasa, 17 Desember 2013

    PUISI WARUNG KOPI



    ini kamar semakin sempit
    tak bisa lagi memberi apa-apa

    maka aku keluar
    menuju warung kopi
    dimana puisi selalu berdiri di pojok sunyi
    yang dingin tanpa kelakar

    dia selalu merentangkan tangannya
    bersedia memeluk ruh-ruh kesepian untuk wujudnya yang hangat

    menengadahkan kepalanya
    mengagungkan ide yang bisa menguatkan dalam kelemahannya

    membusungkan dadanya
    menyerap hati-hati yang kosong
    mengumpulkannya menjadi isi

    sayapnya selalu siap mengepak
    meninggikan segala yang ada di sekitarnya

    Dialah puisi di warung kopi


    4 komentar:

    1. menengadah kelapa sama mengagungkan ide korelasinya apa?
      agak ga nyambung yah antara pojok sunyi terus jadi kepakan sayap.

      Ini puisi yang ditulis di warung kopi (yang baru dikunjungi) yah?

      BalasHapus
    2. sulit kalo imajinasi di buru waktu, jadi ga karuan. Memang ada satu bagian yang tertinggal, matanya yang terpejam, itu membuat gerakan-gerakan dia lebih hidup, lebih tercerna, apalagi kalo sambil diperagakan. Cobain aja.

      BalasHapus
    3. Oh yah?
      Imajinasi di buru waktu atau waktu yang menghentikan imajinasi?

      BalasHapus
    4. Manusia hidup,waktu tidak, tapi waktu menghidupkan manusia

      BalasHapus