Selasa, 17 Desember 2013
PUISI WARUNG KOPI
ini kamar semakin sempit
tak bisa lagi memberi apa-apa
maka aku keluar
menuju warung kopi
dimana puisi selalu berdiri di pojok sunyi
yang dingin tanpa kelakar
dia selalu merentangkan tangannya
bersedia memeluk ruh-ruh kesepian untuk wujudnya yang hangat
menengadahkan kepalanya
mengagungkan ide yang bisa menguatkan dalam kelemahannya
membusungkan dadanya
menyerap hati-hati yang kosong
mengumpulkannya menjadi isi
sayapnya selalu siap mengepak
meninggikan segala yang ada di sekitarnya
Dialah puisi di warung kopi
Label:
Puisi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
menengadah kelapa sama mengagungkan ide korelasinya apa?
BalasHapusagak ga nyambung yah antara pojok sunyi terus jadi kepakan sayap.
Ini puisi yang ditulis di warung kopi (yang baru dikunjungi) yah?
sulit kalo imajinasi di buru waktu, jadi ga karuan. Memang ada satu bagian yang tertinggal, matanya yang terpejam, itu membuat gerakan-gerakan dia lebih hidup, lebih tercerna, apalagi kalo sambil diperagakan. Cobain aja.
BalasHapusOh yah?
BalasHapusImajinasi di buru waktu atau waktu yang menghentikan imajinasi?
Manusia hidup,waktu tidak, tapi waktu menghidupkan manusia
BalasHapus