Kepada kawan
hujan
Apa kabar kawan
di sana? Sehat kau? Janganlah kau terlalu banyak mabuk duren sama arak, tak
baik itu buat kesehatan kau. Kita harus bergerak kawan, mulai dari sekarang dan
jangan berharap untuk segera tiba garis akhir. keadaan di sini makin
memprihatinkan, seperti yang sudah lama kau perkirakan dan kita bercandakan
sebagai suatu kisah sebuah negeri yang penuh dengan kebobrokan, dan kita
tertawa terbahak–baha karena ternyata nama negeri itu adalah Indonesia.
Berbagi tawa
bersama dan mencaci sunyi sendiri – sendiri.
Puisi, itu yang
mengenalkan kita dan membuat jadi lebih dekat. Dari sana pula kita beradu
cangkir kopi dan pendapat dengan kasar bahkan lembut, tak jauh beda dengan
cangkir kopi kita sendiri. Seni, di mana ekspresi atau rekaman dari realitas,
suatu ide atau hasil emosi dengan kecapakan melalui exceptional mind. Semua manifestasi dan asosiasi seni berasal dari
hati yang asli, dan itulah yang kita sebut puisi, hal yang mengeratkan kita.
Kawan hujan,
Ingat cita–cita
kita dahulu, memasyarakatkan puisi. Kita berkehendak itu bukan hal ekslusif,
bukan hal yang sakral dan dianggap sulit. Puisi harus bisa dirasakan semua
kalangan dan terpampang di tiap sudut–sudut kota dan perkampungan. Tidak ada
batasan, puisi harus jadi kebudayaan yang membumi, mengudara dan membahana
mengisi semua celah angin. Itu terwujud kawan, cita–cita kita berhasil.
Puisi sudah
memasyarakat sekarang, kau bisa baca banyak puisi di mana saja. Orang–orang ramai
sekali membuat, membaca dan saling memuji hasil karya kawan–kawannya, dan juga
sebaliknya. Begitu bersemangat, penuh
rasa percaya diri, seolah–olah meniti satu anak tangga yang mengantarkan mereka
menuju kasta yang layak dibanggakan. Dan mereka saling berlomba penuh dengan
keceriaan. Bahagia terpajang di wajahnya ketika satu puisi berhasil dia buat
dan tanpa pikir panjang dia langsung sebar umumkan puisinya. Pujian dan
sanjungan menyusul setelahnya. Mengagumkan.
Banyak kulihat kata
bergerak dengan riang kesana kemari, menyentuh dan lebih menghidupkan budaya
bahasa, menata kata demi kata untuk satu puisi. Tak ada batasan, anak sekolah
berpuisi sebagai bukti kalau mereka memang mendapat pelajaran bahasa ibunya di
sekolah, para pemuda gagah sekali bersajak untuk wanita–wanita pujaan hatinya dan
para orang tua yang begitu fasih bercerita, mengukuhkan kalau memang hanya
dialah yang tau apa yang terjadi di masa lalu. Pujian dan sanjungan tak pernah
mau ketinggalan menyusul setelahnya.
Kawan hujan,
Setuju kah kau
dengan keadaan seperti ini?
Adakah yang salah dengan keadaan seperti yang sudah dijabarkan di atas? Pertanyaan terakhir pada akhir surat menggambarkan bahwa ini semacam surat protes kepada kawan hujan. Betul kah demikian?
BalasHapusMengapa hanya menjabarkan keadaan dan atau situasi hanya dari satu sisi? Alangkah lebih baik jika dari dua sisi dan pendapat pribadi mengapa tidak setujua. Sekian dan terima ngopi gratis :D
#cheers
itu ada di surat berikutnya.
BalasHapus*mari kita lihat nanti*