• Kamis, 21 November 2013

    SURAT UNTUK HUJAN TIMUR


    Kepada kawan hujan
    Apa kabar kawan di sana? Sehat kau? Janganlah kau terlalu banyak mabuk duren sama arak, tak baik itu buat kesehatan kau. Kita harus bergerak kawan, mulai dari sekarang dan jangan berharap untuk segera tiba garis akhir. keadaan di sini makin memprihatinkan, seperti yang sudah lama kau perkirakan dan kita bercandakan sebagai suatu kisah sebuah negeri yang penuh dengan kebobrokan, dan kita tertawa terbahak–baha karena ternyata nama negeri itu adalah Indonesia.
    Berbagi tawa bersama dan mencaci sunyi sendiri – sendiri.
    Puisi, itu yang mengenalkan kita dan membuat jadi lebih dekat. Dari sana pula kita beradu cangkir kopi dan pendapat dengan kasar bahkan lembut, tak jauh beda dengan cangkir kopi kita sendiri. Seni, di mana ekspresi atau rekaman dari realitas, suatu ide atau hasil emosi dengan kecapakan melalui exceptional mind. Semua manifestasi dan asosiasi seni berasal dari hati yang asli, dan itulah yang kita sebut puisi, hal yang mengeratkan kita.
    Kawan hujan,
    Ingat cita–cita kita dahulu, memasyarakatkan puisi. Kita berkehendak itu bukan hal ekslusif, bukan hal yang sakral dan dianggap sulit. Puisi harus bisa dirasakan semua kalangan dan terpampang di tiap sudut–sudut kota dan perkampungan. Tidak ada batasan, puisi harus jadi kebudayaan yang membumi, mengudara dan membahana mengisi semua celah angin. Itu terwujud kawan, cita–cita kita berhasil.
    Puisi sudah memasyarakat sekarang, kau bisa baca banyak puisi di mana saja. Orang–orang ramai sekali membuat, membaca dan saling memuji hasil karya kawan–kawannya, dan juga sebaliknya. Begitu bersemangat,  penuh rasa percaya diri, seolah–olah meniti satu anak tangga yang mengantarkan mereka menuju kasta yang layak dibanggakan. Dan mereka saling berlomba penuh dengan keceriaan. Bahagia terpajang di wajahnya ketika satu puisi berhasil dia buat dan tanpa pikir panjang dia langsung sebar umumkan puisinya. Pujian dan sanjungan menyusul setelahnya. Mengagumkan.
    Banyak kulihat kata bergerak dengan riang kesana kemari, menyentuh dan lebih menghidupkan budaya bahasa, menata kata demi kata untuk satu puisi. Tak ada batasan, anak sekolah berpuisi sebagai bukti kalau mereka memang mendapat pelajaran bahasa ibunya di sekolah, para pemuda gagah sekali bersajak untuk wanita–wanita pujaan hatinya dan para orang tua yang begitu fasih bercerita, mengukuhkan kalau memang hanya dialah yang tau apa yang terjadi di masa lalu. Pujian dan sanjungan tak pernah mau ketinggalan menyusul setelahnya.
    Kawan hujan,
    Setuju kah kau dengan keadaan seperti ini?

    2 komentar:

    1. Adakah yang salah dengan keadaan seperti yang sudah dijabarkan di atas? Pertanyaan terakhir pada akhir surat menggambarkan bahwa ini semacam surat protes kepada kawan hujan. Betul kah demikian?
      Mengapa hanya menjabarkan keadaan dan atau situasi hanya dari satu sisi? Alangkah lebih baik jika dari dua sisi dan pendapat pribadi mengapa tidak setujua. Sekian dan terima ngopi gratis :D
      #cheers

      BalasHapus
    2. itu ada di surat berikutnya.

      *mari kita lihat nanti*

      BalasHapus