Aku menulis itu sebagai sindiran yang tak pernah kau mengerti. Sungguh satu kesia-siaan yang sempurna, seberapa kuat pun kau menggenggam sabar, angin itu tak akan pernah bisa tertangkap. Memang aku tak pernah berani untuk berbicara secara terang-terangan tentang itu, bukan sengaja karena tak peduli, tapi lebih karena aku menghargai keutuhanmu sebagai pribadi, sebagai individu yang bebas berkehendak, berkeinginan, bermimpi dan bersikukuh.
...
Kita bertemu lewat gambar, fotoku ketika usia lalai mendekatkanmu padaku dan aku heran ada perempuan yang seperti itu, aku tak pandai bergaul dengan perempuan. Kau bilang fotoku menggambarkan sesuatu dan kau tertarik untuk mencari tahu. Aku bilang karena kau aneh maka kau mau berteman denganku. Dan akhirnya kita saling tahu, kau suka melukis sedang aku sedang belajar menulis. Menjadi dekat tanpa rencana, mengailr begitu saja Yogyakarta - Tasikmalaya.
Rupa, warna, goresan, arsiran dan lainnya, kau begitu mahir.
2015
2015
0 komentar:
Posting Komentar