Ma... Tenang-tenanglah Mama disana.
Anakmu satu-satunya itu Ma, sudah ia arahkan langkahnya kemana ia tuju, pijakan kakinya dimana dia mau. Bukan lagi Jawa, bahkan Papua sudah ia datangi Ma.
Bukan untuk piknik apalagi sebagai pelarian yang membawa dia ke berangakt tempat itu Ma, tapi rasa peduli terhadap sesama dan keinginannya untuk lembang dan berbagi. Aku yakin ia belajar dari Mama.
Desember awal anakmu itu akan memasuki pedalaman Papua. Kaget, khawatir dan bingung mengetahui hal itu Ma. Di Papua sana Mamaku sayang, tanggal 1 Desember dianggap hari "kemerdekaan" mereka, harinya OPM, organisasi pemberontak orang-orang bilang. Menurut sebagian orang, orang asing atau pendatang sebaiknya tidak berada Disana untuk keamanan mereka sendiri.
Jangan Mama kira aku diam saja. Tidak, aku tidak diam Ma, aku peringatkan dia lewat pesan yang kukirim, walau aku tahu mungkin dia tidak akan peduli sama sekali, bukan karena isi pesannya, terlebih karena aku yang mengirimnya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga ia terhindar dari hal-hal buruk.
***
Mama...
Mamaku yang mungil dan murah senyum.
Anakmu Ma, anakmu yang gembrot dengan gigi rapih itu tadi sore membalas pesanku. Tenang rasanya tahu dia dalam keadaan baik tanpa kurang sesuatu apapun, malah lebih semangat rupanya dia. Mengajar anak-anak PAUD di pedalaman Papua sana. Iya Ma, kami sempat berbincang walaupun kaku seperti biasanya. Tak apa, tahu dia dalam keadaan baik itu sudah cukup, selebihnya memang buat dia sendiri dan suaminya tentu saja.
Sekian dulu suratku Ma.... Doa kami untuk ketenangan dan tempat yang lapang buat Mama disana.
Bdg, 6 Des 2016
PS: Dia masih melukis Ma :)
0 komentar:
Posting Komentar