• Senin, 12 Januari 2015

    Manusia Miskin Jangan Mau Mencari Kebenaran Sejarah

    Manusia miskin jangan mau mencari kebenaran sejarah, bahkan sejarah dirinya sendiri. Yang hidup dalam kebodohan, hanya akan berkubang dalam lumpur kebodohannya saja. Kalaupun dia berani keluar dan itu tanpa di dukung petunjuk arah yang akurat menuju kebenarannya, dia hanya akan berpindah ke kubangan lumpur tetangganya saja.

    Sejarah adalah tempat awal dimana kita bertolak, dasar kita berpijak untuk mengukur seberapa tinggi kita terbang. Sejarah adalah rumah teduh yang di bangun dengan segala kebanggaan, kehinaan, keringat darah dan suka cita, sebagai tempat istirahat jika kita tersesat, bukan untuk di huni cukup berkaca saja sampai menemukan jalan yang seharusnya. Sejarah adalah nasib yang harus diterima, digunakan sebagai pemicu, pemandu untuk kemuliaan semua manusia merdeka.


    5 komentar:

    1. Nggak suka pernyataan "orang miskin jangan mau mencari kebenaran sejarah" sejak dalam pikiran. Merdeka! ('^')9

      BalasHapus
    2. Wow .... udah lama ngga baca tulisan kamu. Yang ini bernada protes.
      Sejarah memang tempat kita memulai sesuatunya dari awal. Bukan maksud seperti istilah kacang lupa kulit. Sejarah tidak mungkin dilupakan akan tetapi bukan acuan dalam menjalani hidup! Sejarah itu bisa diubah ... dari perspectif pemikiran kita .... yang tentu saja harus disertai alasan masuk akal!

      Well, senangnya kamu bisa menulis (lagi)

      BalasHapus
    3. Bukan perkara tidak suka pernyataan "orang miskin jangan mau mencari kebenaran sejarah", tapi ini masalah kepedulian terhadap awal mula, dasar untuk kecerahan di masa depan.

      Dan bukan pula mengubah sejarah secara perspectif, kejelasan sejarah bisa membuat manusia lebih percaya diri dalam kemerdekaannya, berjalan lebih tegap di segala medan hidup dan tentu saja bisa jauh lebih menghargai masa lalu, perjuangannya, kegagalannya dan semua hasilnya.

      Sejarah harus lurus dengan tingkat akurasi yang tinggi.

      BalasHapus
    4. Kumpulan pemikiran.... Wah.... jadi filsuf sekarang, Minke...? (Y)

      BalasHapus
    5. Hanya merasa gerah saja, cukup generasi kita yang tidak percaya diri dengan masa lalunya, anak cucu kita jangan.

      BalasHapus