• Jumat, 14 September 2012

    Belum Berjudul


       Membuka kembali jalur amnesia, mengeja kembali kisahkisah yang nyaris saja terbang hilang dijauhkan putaran waktu. Tak berasa sudah sejauh ini perjalanan hidup. Ada masa dimana hanya tawa saja yang terlihat jelas disana, tapi ada juga cuma tangis dan muka yang ditekuk saja yang terbaca, tentunya ada juga waktu ketika mereka datang secara bersamaan.

       Semua di acak-acak, puisi, bukubuku, photo dan tentu saja daya ingat di kepala. Disanalah setiap apa yang terekam diabadikan dalam semua keterbatasan dan keperluannya. Begitu dingin dan angkuh menempati posnya masingmasing.

       Tak sengaja melihat beberapa puisi dengan label "untuk bunga akhir abad", pikiran langsung menuding seorang gadis berperawakan tidak terlalu tinggi dengan senyum yang selalu bisa menarik perhatian lawan jenisnya. Dia yang selalu bisa memperlihatkan keceriaan dalam wajah sendunya, selalu terlihat cantik dengan memakai rok putih bermotif batik yang di padukan dengan kaos putih ditutupi jaket hijau tanpa menutup resleting, terlihat anggun jika sedang berjalan. Dia yang bikin gila, dia yang mampu menjauhkan segala sunyi.

       Puisipuisi itu rapi tersusun. Masingmasing judul membuka jalan pada setiap cerita yang dia jaga selamanya. Satusatu kubaca ulang puisipuisi itu. dan satusatu pula cerita itu membuka dan terbaca walaupun hanya sisasisanya saja.

    CUKUP
    dikala kita bersua, nona
    aku ingin waktu mati disitu
    pantang kebelakang
    segan kedepan.

      Adalah dimana pertama kali kita bertemu muka. Segala apa yang dia punya berhasil menggelapkan semuanya. Dia membunuh masa lalu dan membuat masa depan ingin berhenti sampai saat itu saja. Sudah tak mau lagi kemanamana, hanya ingin diam disitu saja. Seolah semua kenyamanan dan kesenangan hidup hanya ada disitu, dan tidak bakal ada di waktu lain. Puisi ini ada tanpa dia sadari bahwa dialah yang melahirkannnya, dan puisi ini tetap menjaga cerita pertemuan itu selamanya.

       Keinginan tinggal hanya keinginan dan hanya akan selalu begitu, tak bisa dia mengelak sedikit pun dari apa yang disebut kenyataan kalo semuanya harus mengikuti perputaran waktu. Kenyataan itu pahit. Dan keinginan hanya bisa hidup terpaku dalam puisi itu.

    "RINDU"
    ini rindu seperti paku,
    yang dipalu bayang semu wajahmu,
    menancap tepat diulu hati,
    semakin besar hati menjadi,
    semakin dalam paku membenam.

    habislah waktu...
    habislah pikiran...
    terbuang dalam khayalan

       Sejak pertemuan itu dia kubawa paksa, diam mengisi kepala yang tak besar ini. Dia selalu duduk dingin dan angkuh di sela semua hal yang hilir mudik, datang dan pergi mengisi benak keseharian, dia selalu mendapat tempat. Dia bisa mewujud kobar api yang membakar semangat, dia bisa menjadi penenang di tengah kerusuhan dan yang paling sering dia menjadi nenek tua dengan belaian mematikan yang bisa membuat tidur datang lebih cepat. Dia selalu bisa memenuhi segala apa yang dibutuhkan.

       Kita terpisah. Dan semua kesenangan dan kenyamanan menjauhkan diri  sejauhjauhnya jarak. Tak bisa lagi merasakan semua apa yang diinginkan. Jarak ini memang kejam, mencipta rindu serupa kanvas. Diatasnya tergambar semua luapan emosi dan hasrat yang dipermainkan perbedaan tempat. Semua warna hampir tercipta, namun sebanyakbanyaknya gambar emosi itu, semuanya tak pernah cukup untuk memenuhi kanvas itu. Dengan sajak itu semuanya aman disimpan untuk waktu yang tak pernah bisa dtentukan.

    "IMAJI"
    sayang...
    kita telanjang dan bersayap
    terbang melingkar saling berpegang
    kepala tengadah
    menatap bulan tiada lengah
    purnama yang menanti kita untuk menari

       Dekat dengan dia sudah mencukupi segala apa yang dibutuhkan. Bisa lebih dekat lagi dengannya adalah menikmati surga yang diturunkan secara tibatiba ke dunia. Kesenangan, kenyamanan dan ketenangan yang tak pernah terbayangkan dan memang tak pernah bisa dirasakan.

       Manusia memang selalu menggunakan segala cara agar impiannya selalu terjaga dan hidup, apapun bentuk jadinya. Dan puisi itu menyimpan kunci satu pintu impian yang tak akan pernah terjadi sampai kapanpun, selamanya.

    "PUNAH"
    rindu dari dulu
    musnah sudah
    dilebur temu
    menggenang jadi kenangan

       Semua ada batasnya bahkan keterbatasan itu. Waktu sedang berpihak saat ini, bersekutu kita melawan, berontak dan menghapus kekejaman jarak. Pertemuan kembali yang tak pernah terbayangkan sama sekali. Pertemuan yang menggairahkan dan menghidupkan semua harapan lama, mencairkan lagi warnawarna yang menempel pada canvas yang dibuat jarak. Sepanjang perjalanan yang terbaca hanya kenyamanan dan kehangatan yang tak kan bisa terjabarkan.

       Kopi hitam dan rokok kretek, sepasang kekasih kesepian begitu mereka ku panggil dan mereka tak pernah keberatan, menemani penantian datangnya bunga akhir abad. Sesekali pandanganku memutar, mencari, memperhatikan mungkin dia sudah dekat, karena dari tadi dada tak hentinya berdebar dengan kencang, semakin kencang malah.

       Dia datang. Terbawa olehnya semua keanggunan yang menempel pada warnawarna kanvas rindu, kerasnya debar jantung hampir melucuti semua kesadaran yang tersisa. Dia tetap cantik walaupun terlihat dikejauhan. Nafas menghembus teratur dengan sendirinya berharap semua organ tubuh kembali tenang dan bergerak sebagaimana mesti keadaan normal. Tak mau terlihat gugup, mengakali emosi diri dan berusaha keras menyembunyikan harapan sebesarbesarnya harapan gelandangan akan kenyamanan dan ketenangan.

    Dia dihadapanku sekarang, bertatap muka, beradu pandang. 

    Hati meninggi
    cintapun jatuh
    pecah
    terberai dilantai
    menyisa luka
    serupa wajah dara

    "Hei apa kabar?, Oh iya kenalkan ini kekasihku"

       Langit runtuh berserta segala isinya, menimpaku, menggugurkan segala apa yang menjadi obat sepi, obat matinya manusiamanusia yang masih hidup. Sungguh hanya karena dua kalimat itu saja impian sebesarbesarnya impian bisa hancur berkepingkeping, terbang menjauh dibawa menuju tempat tak bernama, menuju entah. 

    api sepi menyala lagi
    tak menerangi (si)apa-(si)apa
    tak menghangatkan (si)apa-(si)apa
    hanya membakar kelengangan jalan

    waktu adalah tungku
    terbujur kaku
    pura-pura bisu.

       Puisi ini terbaca dihalaman terakhir dimana label "untuk bunga akhir abad" itu ditandai. Kenyataan hidup memang pahit, dan tragisnya kenyataan itu juga tak bisa dihindari. Kenyataan harus ditelan dengan sesadarsadarnya kesadaran. Kopi hitam ku sudah mendingin membuka jalan pulang dari jalur amnesia. 



    5 komentar:

    1. Mendengarkan Sigur Ros sambil membaca ini rasanya merinding. Mungkin faktor lagunya kuat banget yah. :))) Mas Bro, poles dikit EYDnya keren deh

      BalasHapus
    2. Waktu selalu menyisakan kenangan, biarkan dia di belakang, dan tatap ke depan.

      BalasHapus
    3. Mari ngupi lagi, kopi baru kehangatan baru dan tentu saja, rasa kopi yang baru. *cheers

      BalasHapus